Sabtu, 03 Januari 2015
Selasa, 11 November 2014
2.5 PENGERTIAN COBIT
Control Objective for Information &
Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT
Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk
menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis
IT (Sasongko, 2009). COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka
kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja
juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan, resiko
TI dikelola secara tepat, dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab
(Tanuwijaya dan Sarno, 2010).
COBIT merupakan standar yang dinilai paling lengkap
dan menyeluruh sebagai framework IT audit karena dikembangkan secara
berkelanjutan oleh lembaga swadaya profesional auditor yang tersebar di hampir
seluruh negara. Dimana di setiap negara dibangun chapter yang dapat mengelola
para profesional tersebut.
Kerangka
Kerja COBIT
Kerangka kerja COBIT terdiri atas beberapa arahan/pedoman,
yakni:
Control Objectives
Terdiri atas 4 tujuan pengendalian
tingkat-tinggi (high-level control objectives) yang terbagi dalam 4 domain,
yaitu : Planning & Organization , Acquisition & Implementation ,
Delivery & Support , dan Monitoring & Evaluation.
Audit Guidelines Berisi sebanyak 318
tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci ( detailed control objectives ) untuk
membantu para auditor dalam memberikan management assurance dan/atau saran
perbaikan.
Management Guidelines Berisi arahan, baik
secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
Sejauh mana TI harus bergerak atau digunakan, dan
apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya.
Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus.
Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan
agar dapat mencapai sukses ( critical
success factors ).
Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila
kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan.
Bagaimana dengan perusahaan lainnya, apa yang mereka
lakukan.
Bagaimana mengukur keberhasilan dan bagaimana
pula membandingkannya.
Manfaat dan Pengguna COBIT
Secara manajerial target pengguna COBIT dan manfaatnya
adalah :
Direktur
dan Eksekutif
Untuk memastikan manajemen mengikuti dan mengimplementasikan
strategi searah dan sejalan dengan TI.
Manajemen
Untuk mengambil keputusan investasi TI.
Untuk keseimbangan resiko dan kontrol
investasi.
Untuk benchmark lingkungan TI sekarang dan masa
depan.
Pengguna
Untuk memperoleh jaminan keamanan dan
control produk dan jasa yang dibutuhkan secara internal maupun eksternal.
Auditors
Untuk memperkuat opini untuk manajemen
dalam control internal.
Untuk memberikan saran pada control minimum
yang diperlukan.
Frame Work COBIT
COBIT dikeluarkan oleh IT Governance
Institute (ITGI). COBIT digunakan untuk menjalankan penentuan atas IT dan
meningkatkan pengontrolan IT. COBIT juga berisi tujuan pengendalian, petunjuk audit,
kinerja dan hasil metrik, faktor kesuksesan dan maturity model.
Lingkup kriteria informasi yang sering menjadi
perhatian dalam COBIT adalah:
Effectiveness
Menitikberatkan pada sejauh mana
efektifitas informasi dikelola dari data-data yang diproses oleh sistem
informasi yang dibangun.
Efficiency
Menitikberatkan pada sejauh mana efisiensi investasi
terhadap informasi yang diproses oleh
sistem.
Confidentiality
Menitikberatkan pada pengelolaan
kerahasiaan informasi secara hierarkis.
Integrity
Menitikberatkan pada integritas
data/informasi dalam sistem.
Availability
Menitikberatkan pada ketersediaan
data/informasi dalam sistem informasi.
Compliance
Menitikberatkan pada kesesuaian
data/informasi dalam sistem informasi.
Reliability
Menitikberatkan pada kemampuan/ketangguhan sistem
informasi dalam pengelolaan data/informasi.
Sedangkan fokus terhadap pengelolaan sumber daya
teknologi informasi dalam COBIT adalah pada :
Applications
Information
Infrastructure
People
Dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan perusahaan
untuk mencapai tujuan organisasi, COBIT memiliki karakteristik :
Business-focused
Process-oriented
Controls-based
Measurement-driven
COBIT mengelompokkan semua aktivitas bisnis
yang terjadi dalam organisasi menjadi 34 proses yang terbagi ke dalam 4 buah
domain proses, meliputi :
Planning & Organization .
Domain ini menitikberatkan pada proses perencanaan
dan penyelarasan strategi TI dengan
strategi perusahaan, mencakup masalah
strategi, taktik dan identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan
kontribusi maksimal terhadap pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk
sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula. Domain
ini mencakup :
PO1 – Menentukan
rencana strategis
PO2 – Menentukan
arsitektur informasi
PO3 – Menentukan
arah teknologi
PO4 – Menentukan
proses TI, organisasi dan hubungannya
PO5 – Mengelola
investasi TI
PO6 –
Mengkomunikasikan tujuan dan arahan manajemen
PO7 – Mengelola
sumber daya manusia
PO8 – Mengelola
kualitas
PO9 – Menilai dan
mengelola resiko TI
PO10 – Mengelola
proyek
Acquisition & Implementation.
Domain ini berkaitan dengan implementasi
solusi IT dan integrasinya dalam proses bisnis organisasi untuk mewujudkan
strategi TI, juga meliputi perubahan dan maintenance yang dibutuhkan sistem yang
sedang berjalan untuk memastikan daur hidup sistem tersebut tetap terjaga.
Domain ini meliputi:
AI1 –
Mengidentifikasi solusi yang dapat diotomatisasi.
AI2 – Mendapatkan
dan maintenance software aplikasi.
AI3 – Mendapatkan
dan maintenance infrastuktur teknologi
AI4 – Mengaktifkan
operasi dan penggunaan
AI5 – Pengadaan
sumber daya IT.
AI6 – Mengelola
perubahan
AI7 – Instalasi
dan akreditasi solusi dan perubahan.
Delivery & Support .
Domain ini mencakup proses pemenuhan layanan
IT, keamanan sistem, kontinyuitas layanan, pelatihan dan pendidikan untuk
pengguna, dan pemenuhan proses data yang sedang berjalan.
Domain ini meliputi :
DS1 – Menentukan dan mengelola tingkat layanan.
DS2 – Mengelola layanan dari pihak ketiga
DS3 – Mengelola performa dan kapasitas.
DS4 – Menjamin layanan yang berkelanjutan
DS5 – Menjamin keamanan sistem.
DS6 – Mengidentifikasi dan mengalokasikan dana.
DS7 – Mendidik dan melatih pengguna
DS8 – Mengelola service desk dan insiden.
DS9 – Mengelola konfigurasi.
DS10 – Mengelola permasalahan.
DS11 – Mengelola data
DS12 – Mengelola lingkungan fisik
DS13 – Mengelola operasi.
Monitoring
and Evaluation .
Domain ini berfokus pada masalah
kendali-kendali yang diterapkan dalam organisasi, pemeriksaan intern dan
ekstern dan jaminan independent dari
proses pemeriksaan yang dilakukan. Domain
ini meliputi:
ME1 – Mengawasi dan mengevaluasi
performansi TI.
ME2 – Mengevaluasi dan mengawasi kontrol
internal
ME3 – Menjamin kesesuaian dengan
kebutuhan eksternal.
ME4 – Menyediakan IT Governance .
COBIT
Maturity Model
COBIT menyediakan parameter untuk penilaian
setinggi dan sebaik apa pengelolaan IT pada suatu organisasi dengan menggunakan
maturity models yang bisa digunakan untuk penilaian kesadaran pengelolaan
(management awareness) dan tingkat kematangan (maturity level). COBIT mempunyai
model kematangan (maturity models) untuk mengontrol proses-proses IT dengan
menggunakan metode penilaian (scoring) sehingga suatu organisasi dapat menilai
proses-proses IT yang dimilikinya dari skala nonexistent sampai dengan optimised
(dari 0 sampai 5), yaitu: 0: Non Existen, 1: Initial, 2: Repetable, 3: Defined,
4: Managed dan 5: Optimized (Purwanto dan Saufiah, 2010; Setiawan, 2008;
Nurlina dan Cory, 2008)
sumber:
haendra.wordpress.com/2012/06/08/pengertian-cobit/
2.4 KOMPONEN PENGENDALIAN INTERN VERSI COSO
Internal control is process, affected by
entility’s board of directors, management and other personnel, designed to
provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the
following categories: Effectiveness and efficiency of operations, Realibillty
of Financial Reporting, Compliance with Applicable laws and regulations.
atau dalam terjemahan bebasnya adalah
sebagai berikut : sistem pengendalian internal merupakan suatu proses yang
melibatkan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain, yang dirancang untuk
memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga tujuan berikut ini:
Efektivitas dan efisiensi operasi, Keandalan pelaporan keuangan, Kepetuhan
kerhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Komponen pengendalian internal menurut COSO
adalah :
1. Lingkungan pengendalian (control environment)
. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian
internal. Faktor-faktor lingkungan pengendalian mencakup integritas, nilai
etis, dan kompetensi dari orang dan entitas, filosofi manajemen dan gaya
operasi, cara manajemen memberikan otoritas dan tanggung jawab serta
mengorganisasikan dan mengembangkan orangnya, perhatian dan pengarahan yang
diberikan oleh board.
2. Penaksiran risiko (risk assessment).
Mekanisme yang ditetapkan untuk mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola
risiko-risiko yang berkaitan dengan berbagai aktivitas di mana organisasi
beroperasi.
3. Aktivitas pengendalian (control activities).
Pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh manajemen
untuk membantu memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
4. Informasi dan komunikasi (informasi and communication)
. Sistem yang memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi
yang diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
5. Pemantauan (monitoring). Sistem
pengendalian internal perlu dipantau, proses ini bertujuan untuk menilai mutu
kinerja sistem sepanjang waktu. Ini dijalankan melalui aktivitas pemantauan
yang terus-menerus, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya Kelima
komponen IC di atas memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Larry F Konrath
(1999) menggambarkan kelima komponen tersebut bagaikan sebuah bangunan rumah
dimana
Lingkungan Pengendalian menjadi pondasinya.
Penilaian risiko, aktivitas pengendalian dan informasi
dan komunkasi menjadi pilar-pilarnya. Sedangkan Monitoring menjadi atapnya.
Dengan demikian, sebuah IC akan berjalan secara efektif jika kelima unsur
tersebut terbangun dengan baik dan beroperasi sesuai proporsinya masing-masing.
Menurut COSO, semua orang dalam organisasi yaitu
Manajemen, Dewan direksi, Komite Audit, dan Personel lainnya bertanggung jawab
terhadap pengendalian internal, karena semua orang dalam organisasi memiliki
peran dalam pengendalian internal, sehingga pengendalian internal tidak dapat
berjalan dengan baik apabila ada salah satu anggota yang tidak menjalankan
perannya dalam pengendalian internal.
Pihak-pihak luar seringkali memberikan
kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan, seperti
Auditor eksternal, Badan Regulasi dan
legislatif, customer, analis keuangan, dan media massa. Namun demikian pihak
ketiga tersebut tidak bertanggung jawab terhadap pengendalian internal karena
mereka bukan bagian dari organisasi maupun bukan bagian dari sistem
pengendalian internal.
Definisi internal control menurut COSO Suatu
proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff, untuk membuat
reasonable assurance mengenai:
• Efektifitas
dan efisiensi operasional
• Reliabilitas
pelaporan keuangan
• Kepatuhan
atas hukum dan peraturan yang berlaku
Dokumen COSO menyatakan bahwa pihak-pihak yang
terlibat terkait PengendalianInternal adalah dewan komisaris, manajemen, dan
pihak-pihak lainnya yangmendukung pencapaian tujuan organisasi. Serta
menyatakan bahwa tanggung jawab atas penetapan, penjagaan, dan pengawasan sistem
Pengendalian Internal adalahtanggung jawab manajemen.
Komponen Struktur Pengendalian Intern Untuk
mencapai suatu pengendalian intern yang benar-benar memadai, terdapat komponen
dasar kebijakan yang dirancang dan digunakan oleh manajemen.
Komponen pengendalian intern menurut COSO (The
Committee of Sponsoring Organizations) oleh Wing Wahyu Winarno dalam buku ”Sistem
Informasi Akuntansi” Ada lima, yaitu:
“1. Control environment atau lingkungan pengendalian
2 . Control activities atau kegiatan pengendalian
2. Risk assessment atau pemahaman risiko
3. Information and communication atau informasi
dan komunikasi
4. Monitoring atau pemantauan”.
Menurut kutipan diatas dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian merupakan sarana dan prasarana
yang ada di dalam organisasi atau perusahaan untuk menjalankan struktur pengendalian
intern yang baik. Beberapa komponen yang mempengaruhi lingkungan pengendalian
intern adalah:
1. Komitmen manajemen terhadap integritas
dan nilai-nilai etika ( Commitment to integrity
and ethical values ).
2. Filosofi yang dianut oleh manajemen dan
gaya operasional yang dipakai oleh
manajemen
( Manajement’s philosophy and operating style ).
3. Struktur organisasi ( Organizational structure
).
1. Komite Audit untuk Dewan Direksi ( The
audit committee of the board of directors ).
2. Metode pembagian tugas dan tanggung jawab (
Methods of assigning authority and responsibility).
3. Kebijakan dan praktik yang menyangkut
sumber daya manusia ( Human resources policies and practices ).
4. Pengaruh dari luar ( External influences ).
5. Kegiatan pengendalian
Kegiatan pengawasan merupakan berbagai
proses dan upaya yang dilakukan oleh manajemen
perusahaan untuk menegakkan pengawasan atau
pengendalian operasi perusahaan. COSO mengidentifikasi setidak-tidaknya ada
lima hal yang dapat diterapan oleh perusahaan, yaitu:
1. Pemberian otorisasi atas transaksi dan kegiatan
( Proper authorization of transactions and activities ).
2. Pembagian tugas dan tanggung jawab (
Segregation of duties ).
1. Rancangan dan penggunaan dokumen dan
catatan yang baik ( Design and use of adequate documents and records ).
2. Perlindungan yang cukup terhadap kekayaan
dan catatan perusahaan ( Adequate safeguards of assets and records ).
3. Pemeriksaan independen terhadap kinerja
perusahaan ( Independent checks on performance ).
3. Pemahaman risiko
Manajemen perusahaan harus dapat mengidentifikasi
berbagai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Dengan memahami risiko,
manajemen dapat mengambil tindakan pencegahan, sehingga perusahaan dapat menghindari
kerugian yang besar. Ada tiga kelompok risiko yang dihadapi perusahaan, yaitu:
1. Risiko strategis, yaitu mengerjakan sesuatu
dengan cara yang salah (misalnya: harusnya dikerjakan dengan komputer ternyata dikerjakan
secara manual).
2. Risiko finansial, yaitu risiko menghadapi kerugian
keuangan. Hal ini dapat disebabkan karena uang hilang, dihambur-hamburkan, atau
dicuri.
3. Risiko informasi, yaitu menghasilkan
informasi yang tidak relevan, atau informasi yang
keliru, atau bahkan sistem informasinya
tidak dapat dipercaya.
4. Informasi dan Komunikasi Perancang sistem
informasi perusahaan dan manajemen puncak harus mengetahui hal-hal di bawah
ini:
a Bagaimana transaksi diawali
b. Bagaimana data dicatat ke dalam formulir yang
siap di- input ke sistem komputer atau langsung dikonversi ke sistem komputer.
c. Bagaimana file data di baca di organisasi
dan diperbaharui isinya
d. Bagaimana data diproses agar menjadi informasi
dan informasi diproses lagi menjadi informasi yang lebih berguna bagi pembuat keputusan
e. Bagaimana informasi yang baik dilakukan
f. Bagaimana transaksi berhasil
4. Pemantauan
Pemantauan adalah kegiatan untuk mengikuti jalannya
sistem informasi akuntansi, sehingga
apabila ada sesuatu berjalan tidak seperti
yang diharapkan, dapat diambil tindakan segera.
Berbagai bentuk pemantaun di dalam
perusahaan dapat dilaksanakan dengan salah satu atau semua proses berikut ini:
1. Supervisi yang efektif (effective supervision)
yaitu manajemen yang lebih atas mengawasi
manajemen dan karyawan di bawahnya.
1. Akuntansi pertanggungjawaban
(responsibility accounting) yaitu perusahaan menerapkan suatu system akuntansi
yang dapat digunakan untuk menilai kinerja masing-masing manajer, masing-masing
departemen, dan masing-masing proses yang dijalankan oleh perusahaan.
1. Audit internal (internal auditing) yaitu
pengauditan yang dilakukan oleh auditor di dalam perusahaan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen
pengendalian intern terdiri dari:
lingkungan pengendalian, kegiatan
pengawasan, pemahaman risiko, informasi dan komunikasi sreta pemantauan.
Kegiatan Pengendalian Intern
Menurut Wing Wahyu Winarno dalam buku ”Sistem Informasi
Akuntansi” kegiatan pengendalian intern terdiri dari:
“1 Pemberian otorisasi atas
transaksi dan kegiatan
2. Pembagian tugas dan tanggung jawab
3. Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan
yang baik
1. 4.
Perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan catatan perusahaan
2. 5.
Pemeriksaan independen terhadap kinerja perusahaan”.
Menurut kutipan diatas dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Pemberian otorisasi atas transaksi dan kegiatan
Otorisasi adalah pemberian sebagian kekuasaan manajemen kepada karyawan untuk
melakukan kegiatan dan mengambil keputusan. Hal ini perlu dilakukan karena
manajemen tidak akan mampu membuat semua keputusan dan menjalankan semua kegiatan
di dalam perusahaan.
2. Pembagian tugas dan tanggung jawab Tidak
ada satu karyawan atau satu bagian pun yang
dapat menyelesaikan suatu transaksi tanpa
campur tangan pihak lain. Wewenang dan tanggung jawab di bagi atas tiga fungsi,
yaitu:
1. Fungsi penyimpanan
2. Fungsi pencatatan
3. Fungsi pemberian otorisasi
3.
Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang baik Dokumen akan disimpan
dalam waktu yang lama. Oleh karenanya, bahan yang digunakan untuk membuat
dokumen juga harus merupakan bahan yang tahan lama dan berkualitas baik.
4. Perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan
catatan perusahaan
Perlindungan yang dapat dilakukan oleh perusahaan,
agar tidak terjadi pencurian dan penggunaan tanpa otorisasi, diantaranya dengan
melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Pengawasan dan pembagian tugas dan tanggung
jawab yang baik
2. Penyelenggaraan catatan aktiva dan
penyajian informasi yang akurat
3. Pembatasan akses fisik terhadap kas dan berbagai
dokumen penting
4. Penyediaan tempat penyimpanan yang baik
5. Pembatasan akses ruang-ruang penting
5. Pemeriksaan independent terhadap kinerja perusahaan
Pemeriksaan kinerja ini dapat dilakukan dengan salah satu langkah berikut:
1. Melakukan rekonsiliasi antara dua catatan yang
terpisah atau berbeda mengenai suatu rekening
2. Membandingkan antara jumlah unit persediaan
di gudang dengan jumlah menurut catatan persediaan
Menyelenggarakan double entry bookkeeping, yaitu
metode pencatatan yang selalu melibatkan setidak-tidaknya dua rekening untuk
mencatat satu transaksi
d. Menjumlah berbagai hitungan dengan cara batch
totals , yaitu penjumlahan dari atas ke
bawah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan
pengendalian intern meliputi pemberian otorisasi transaksi dan kegiatan,
pembagian tugas dan tanggung jawab, perancangan dan penggunaan dokumen dan
catatan yang baik, perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan catatan
perusahaan, dan pemeriksaan independent terhadap kinerja
perusahaan.
2.2.5
Keterbatasan Pengendalian Intern Menurut Azhar Susanto dalam bukunya ‘Sistem Informasi
Akuntansi” menyatakan bahwa ada beberapa keterbatasan dari pengendalian
intern, sehingga pengendalian intern tidak dapat berfungsi, yaitu:
1. Kesalahan
2. Kolusi
3. Penyimpangan Manajemen
4. Manfaat dan Biaya
Menurut kutipan diatas dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Kesalahan muncul ketika karyawan
melakukan pertimbangan yang salah atau perhatiannya selama bekerja terpisah.
2. Kolusi terjadi ketika dua atau lebih
karyawan berkonspirasi untuk melakukan pencurian (korupsi) di tempat mereka
bekerja.
3. Penyimpangan manajemen muncul karena manajer
suatu organisasi memiliki lebih banyak otoritas dibandingkan karyawan biasa,
proses pengendalian efektif pada tingkat manajemen bawah dan tidak efektif pada
tingkat atas.
4. Manfaat dan biaya, konsep jaminan yang meyakinkan
atau masuk akal mengandung arti bahwa biaya pengendalian intern tidak melebihi manfaat
yang dihasilkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterbatasan
pengendalian intern meliputi:
Kesalahan, kolusi, penyimpangan manajemen,
serta manfaat dan biaya.
2.3 Struktur Pengendalian Intern Penjualan Struktur
pengendalian intern penjualan merupakan hal pokok untuk lebih diperhatikan oleh
seorang pimpinan perusahaan karena struktur pengendalian intern penjualan
merupakan alat untuk mengetahui apakah aktivitas penjualan yang dilakukan oleh perusahaan
sudah cukup baik atau belum, sehingga dapat diketahui besar volume penjualan
yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam suatu periode.
Struktur pengendalian intern juga merupakan proses
untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen struktur pengendalian intern yang seharusnya
ada dalam siklus penjualan dirancang untuk mencapai tujuan pokok pengendalian administratif,
menjaga kekayaan perusahaan, dan menjamin ketelitian serta keandalan data akuntansi.
Tujuan pengendalian intern juga harus mencapai hal-hal yang berkaitan dengan
masalah yang dihadapi dan ditunjukkan sebagai pelaksanaan dan tindakan
pengamanan terhadap harta yang dimiliki. Adapun komponen dari struktur pengendalian
intern menurut COSO (The Committee of Sponsoring Organizations) oleh Wing Wahyu
Winarno dalam buku ”Sistem Informasi Akuntansi”
Ada lima, yaitu:
“ 1.
Control environment atau lingkungan pengendalian
2 .
Control activities atau kegiatan pengendalian
3. Risk
assessment atau pemahaman risiko
4.
Information and communication atau informasi dan komunikasi
5.
Monitoring atau pemantauan”.
Berdasarkan uraian tersebut dapat diungkapkan
bahwa apabila komponen-komponen struktur pengendalian intern tersebut
dijalankan dengan baik, maka tujuan dari suatu perusahaan pun akan tercapai.
Aktivitas penjualan merupakan pendapatan utama
perusahaan, karenanya jika aktivitas penjualan barang tidak dikelola dengan
baik maka secara langsung akan merugikan perusahaan. Hal ini disebabkan oleh
sasaran penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan pendapatan perusahaan pun berkurang,
maka dari itu dalam melakukan aktivitas penjualan pengendalian intern penjualan
sangatlah diperlukan.
sumber;
rnurinaramadhani.blogspot.in/2013/01/32
nickoprasetioo.blogspot.in
sumber;
rnurinaramadhani.blogspot.in/2013/01/32
nickoprasetioo.blogspot.in
2.3 SISTEM PENGENDALIAN INTERN
Dalam teori akuntansi dan organisasi , pengendalian intern atau kontrol
intern didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya
manusia dan sistem teknologi informasi , yang dirancang untuk membantu
organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern
merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya
suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan
( fraud ) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti
mesin dan lahan ) maupun tidak berwujud (seperti reputasi atau hak kekayaan
intelektual seperti merek dagang ).
Adanya sistem akuntansi yang memadai, menjadikan akuntan perusahaan
dapat menyediakan informasi keuangan bagi setiap tingkatan manajemen, para
pemilik atau pemegang saham , kreditur dan para pemakai laporan keuangan (
stakeholder ) lain yang dijadikan dasar pengambilan keputusan ekonomi . Sistem
tersebut dapat digunakan oleh manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan operasi
perusahaan. Lebih rinci lagi, kebijakan dan prosedur yang digunakan secara
langsung dimaksudkan untuk mencapai sasaran dan menjamin atau menyediakan
laporan keuangan yang tepat serta menjamin ditaatinya atau dipatuhinya hukum
dan peraturan, hal ini disebut Pengendalian Intern , atau dengan katablain
bahwa pengendalian intern terdiri atas kebijakan dan prosedur yang digunakan
dalam operasi perusahaan untuk menyediakan informasi keuangan yang handal serta
menjamin dipatuhinya hukum dan peraturan yang berlaku.
Pada tingkatan organisasi, tujuan pengendalian intern berkaitan dengan
keandalan laporan keuangan , umpan balik yang tepat waktu terhadap pencapaian
tujuan-tujuan operasional dan strategis, serta kepatuhan pada hukum dan
regulasi. Pada tingkatan transaksi spesifik, pengendalian intern merujuk pada
aksi yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (mis. memastikan
pembayaran terhadap pihak ketiga dilakukan terhadap suatu layanan yang
benar-benar dilakukan). Prosedur pengedalian intern mengurangi variasi proses
dan pada gilirannya memberikan hasil yang lebih dapat diperkirakan.
Pengendalian intern merupakan unsur kunci pada Foreign Corrupt Practices Act
(FCPA) tahun 1977 dan Sarbanes-Oxley tahun 2002 yang mengharuskan peningkatan
pengendalian intern pada
perusahaan-perusahaan publik Amerika Serikat.
Tujuan Pengendalian Intern
Tujuan pengendalian intern adalah menjamin manajemen
perusahaan/organisasi/entitas agar:
Tujuan perusahaan yang ditetapkan akan dapat dicapai.
Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan dapat dipercaya
Kegiatan perusahaan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Pengendalian intern dapat mencegah kerugian atau pemborosan pengolahan
sumber daya perusahaan. Pengendalian intern dapat menyediakan informasi tentang
bagaimanabmenilai kinerja perusahaan dan manajemen perusahaan serta menyediakan
informasi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan.
Elemen-elemen Pengendalian Intern
Committee of Sponsoring Organizations of the Treatway Commission (COSO)
memperkenalkan adanya lima komponen pengendalian intern yang meliputi
Lingkungan Pengendalian ( Control Environment ), Penilaian Resiko ( Risk
Assesment ), Aktivitas Pengendalian (Control Procedure), Pemantauan (
Monitoring), serta Informasi dan Komunikasi ( Information and Communication).
Lingkungan Pengendalian (Control Environment ) Lingkungan pengendalian
perusahaan mencakup sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya
pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap lingkungan pengendalian adalah filosofi manajemen
(manajemen tunggal dalam persekutuan atau manajemen bersama dalam perseroan)
dan gaya operasi manajemen (manajemen yang progresif atau yang konservatif),
struktur organisasi (terpusat atau ter desentralisasi) serta praktik
kepersonaliaan.
Lingkungan pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar
keefektifan unsur-unsur pengendalian intern yang lain. Pengendalian internal vs
pengendalian manajemen:
1. Pengendalian internal
a pengendalian manajemen terdiri dari
pengendalian intern dan ekstern
b. lebih menekankan pd tujuan perusahaan
dan menghubungkan pengendallian manajemen
untuk mencapai tujuan
c. meliputi produksi, transportasi dan
riset perusahaan.
2. Pengendalian manajemen
a. mengendalikan terdiri dari pengendalian
administratif dan pengendalian akuntansi
b. menekankan pada pengendalian terhadap
mengamankan aktiva perusahaan dengan melakukan pecatatan akuntansi memadai
c. meliputi akuntansi meningkatkan efektifitas
dan efisiensi dan taat pd hukum yang berlaku.
COSO memperkenalkan lima komponen pengendalian intern sebagai
pembaharuan dari pengendalian manajemen, pengendalian manajemen lebih
menekankan terhadap prosedur, sementara pengendalian intern lebih menekankan
peran manusia/pelaku dibandingkan
serangkaian prosedur.
Penilaian Risiko (Risk Assesment)
Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi apapun yang namanya
risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis
(profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko yang telah di
identifikasi dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan
intensitas dan tindakan yang dapat meminimalkannya. Prosedur Pengendalian (Control Activities)
Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja sehingga
menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi terjadinya
ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur pengendalian meliputi hal- hal sebagai
berikut:
Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.
Pelimpahan tanggung jawab.
Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.
Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.
Pemantauan (Monitoring )
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan menemukan kekurangan
serta meningkatkan efektivitas pengendalian.
Pengendalian intern dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian
khusus atau sejalan dengan usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir
dapat dilakukan dengan cara mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda
peringatan yang diberikan oleh sistem akuntansi .
Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi
perubahan pokok
dalam strategi manajemen senior, struktur
korporasi atau kegiatan usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal adalah
pihak yang bertanggung jawab atas pemantauan sistem pengendalian intern.
Auditor independen juga sering melakukan penilaian atas pengendalian
intern sebagai bagian dari audit atas
laporan keuangan.
Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Informasi dan komunikasi merupakan elemen- elemen yang penting dari
pengendalian intern perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, prosedur pengendalian dan monitoring diperlukan oleh
manajemen Winnebago pedoman operasional dan menjamin ketaatan dengan pelaporan
hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan.
Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan. Manajemen dapat
menggunakan informasi jenis ini untuk menilai standar eksternal. Hukum,
peristiwa dan kondisi yang
berpengaruh pada pengambilan keputusan dan
pelaporan eksternal.
sumber:
rnurinaramadhani.blogspot.in/2013/01/32-
nickoprasetioo.blogspot.in/2012/11/2-
2.1 HAMBATAN PASIF DAN CONTOHNYA
Hambatan pasif merupakan
salah satu hambatan yang terjadi pada sistem yang disebabkan oleh
ketidaksengajaan, misalnya bencana alam, matinya aliran listrik, dan lain-lain
yang tidak disengaja.
Contohnya saja ketika sesorang sedang
mengerjakan suatu proyek penting di komputer, pada saat bersamaan terjadi gempa
bumi yang menyebabkan gangguan jaringan dan listrik, sedangkan proyek tersebut belum
tersimpan secara keseluruhan. Dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan,
karena merupakan bencana alam. Berbeda dengan hambatan aktif yang secara
sengaja menghambat sistem, hambatan pasif biasanya diakibatkan oleh
ketidaksengajaan atau tidak direncanakannya hambatan tersebut. hambatan pasif
mencakup
kesalahan-kesalahan system, termasuk gangguan
alam, seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, dan badai. Kesalahan system
mewakili kegagalan peralatan komponen seperti kelemahan disk, kekurangan
tenaga, dan sebagainya. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada
hambatan pasif yaitu pada perangkat keras dapat dilakukan dengan cara full
backup data
Hambatan pasif ini biasanya mencakup kegagalan
sistem, kesalahan manusia dan bencana alam.
Kegagalan Sistem
Kegagalan sistem ini terdiri dari antara lain:
1. Gangguan listrik
2. Kegagalan peralatan
3. Kegagalan fungsi perangkat lunak
Kesalahan Manusia
Hambatan pasif yang disebabkan oleh
kegagalan manusia yaitu antara lain :
1. Kesalahan pemasukan data
2. Kesalahan penghapusan data
3. Kesalahan operator (kesalahan memberikan
label pada pita magnetik)
Bencana Alam
Hambatan pasif yang terjadi karena bencana
alam memang tidaklah bisa dihindari dan diduga karena bisa saja terjadi
sewaktu-waktu tanpa kita sadari.
Contohnya yaitu :
1. Gempa Bumi
2. Banjir
3. Kebakaran
4. Perang dsb
Sumber : http://openstorage.gunadarma.ac.id/
handouts/S1_Sistem%20Informasi.1/Febriani/
Keamanan.doc
http://www.scribd.com/doc/90959757/Bab-5-
Keamanan-Sistem-Informasià
2.2 HAMBATAN AKTIF DAN CONTOH NYA
Yang dimaksud dengan hambatan
aktif adalah hambatan yang diterima oleh sistem secara langsung oleh si
penghambat tersebut. Terdapat sedikitnya enam metode yang dapat dipakai oleh orang
untuk melakukan penggelapan computer. Metode-metode ini adalah menipulasi
masukan, gangguan program, gangguan berkas secara langsung, pencurian data,
sabotase,dan penyalahgunaan dan pencurian sumberdaya computer.
Hambatan aktif sendiri dilakukan oleh oknum- oknum
yang tidak bertanggung jawab dalam melakukan sebuah pekerjaan, dan
menyalahgunakan prosedur yang ada, dengan mengiming-imingi suatu hal untuk
sebuah kepuasan konsumen.
Tiga kategori individu yang bisa menimbulkan serangan
ke sistem informasi:
1.Karyawan sistim informasi
2.Para pemakai
3.Pengganggu
Hambatan aktif contohnya penipuan dalam sebuah
komponen-komponen dari komputer dan sabotase.
6 metode yang digunakan secara umum yaitu :
1. Manipulasi Input
Metode ini hanya membutuhkan kemampuan teknis sehingga
memungkinkan pengguna tidak mengetahui operasi koputernya secara keseluruhan.
Sebagian besar kasus penyalah gunaan komputer menggunakan metode ini.
2. Gangguan Program
Dalam penerapannya, metode ini membutuhkan tenaga
programmer yang terlatih sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. saat
ini Gangguan Program adalah metode yang paling jarang digunakan.
3. Gangguan berkas secara langsung
Metode ini memungkinkan pengguna melakukan jalan
pintas terhadap proses normal untuk pemasukan data ke program-program Komputer.
Jika ini terjadi, maka akibatnya sangat fatal.
4. Pencurian Data
Pencurian Data adalah masalah serius yang
tidak ada habisnya sejak dulu. Sebuah data Informasi yang penting haruslah
terlindungi dengan baik agar tidak diketahui oleh pihak luar terutama pesaing
yang ingin mengetahui dan mengacaukan data yang dimiliki. dalam hal ini sistem
keamanan komputer sangatlah diperlukan.
5. Sabotase
Sabotase adalah tindakan pengrusakan yang dilakukan
secara terencana. dan bila terjadi sangat berbahaya karna biasanya menimbulkan efek
psikologis yang besar. Sistem keamanan yang baik sangat diperlukan dan harus
selalu diperbarui mengingat kecanggihan teknologi yang ada saat ini.
6. penyalahgunaan sumber daya komputer
Banyaknya pengguna komputer memanfaatan sumber
daya komputer untuk kepentingan pribadi mereka dan merugikan orang lain seperti
: hacker, pembajakan, dan pengunduhan secara ilegal.
Contohnya seperti penipuan dari komponen /isi
dala komputer yang sudah dirubah secara semestina oleh oknum yang tidak
bertanggung jawab demi
keuntungan pribadi.
Contoh lain dari hambatan aktif yaitu adalah :
Data Tampering atau Data Diddling
Data Tampering adalah merubah data sebelum, atau
selama proses dan sesudah proses dari sistem informasi. Data diubah sebelum
diproses yaitu pada waktu data ditangkap di dokumen dasar atau pada saat diverifikasi
sebelum dimasukkan ke sistem informasi. Data diubah pada saat proses sistem
informasi biasanya dilakukan pada saat dimasukkan ke dalam sistem informasi. Data
diubah setelah proses sistem informasi yaitu dengan mengganti nilai
keluarannya. Data diubah dapat diganti, dihapus atau ditambah. Kegiatan data
tampering ini biasanya banyak dilakukan oleh orang dalam perusahaan itu
sendiri.
Penyelewengan Program ( Programming Fraud)
Dengan cara ini, program komputer dimodifikasi
untuk maksud kejahatan tertentu. Teknik-teknik yang termasuk dalam kategori ini
adalah virus, worm. trojan horse, round down technique, salami slicing,
trapdoor, super zapping, logic bomb atau time bomb.
Penetrasi ke Sistem Informasi
- Piggybacking
Piggybacking adalah menyadap jalur
telekomunikasi dan ikut masuk ke dalam sistem komputer bersama-sama dengan
pemakai sistem komputer yang resmi.
- Masquerading atau Impersonation
Masquerading atau Impersonation yaitu
penetrasi ke sistem komputer dengan memakai identitas dan password dari orang
lain yang sah. Identitas dan password ini biasanya diperoleh dari orang dalam.
- Scavenging
Scavenging
yaitu penetrasi ke sistem komputer dengan memperoleh identitas dan password
dari mencari di dokumen-dokumen perusahaan. Data identitas dan password
diperoleh dari beberapa cara mulai dari mencari dokumen di tempat sampah sampai
dengan mencarinya di memori-memori komputer.
- Eavesdropping
Eavesdropping
adalah penyadapan informasi di jalur transmisi privat.
Pemanipulasian Masukkan
Dalam banyak kecurangan terhadap komputer, pemanipulasian
masukkan merupakan metode yang paling banyak digunakan, mengingat hal ini dapat
dilakukan tanpa memerlukan ketrampilan teknis yang tinggi.
Penggantian Program
Pemanipulasian melalui program dapat dilakukan
oleh para spesialis teknologi informasi.
Penggantian Berkas Secara Langsung
Pengubahan berkas secara langsung umum
dilakukan oleh orang yang punya akses secara langsung terhadap basis data.
Pencurian Data
Pencurian data seringkali dilakukan oleh “orang dalam” untuk
dijual. Salah satu kasus yang terjadi pada Encyclopedia Britanica Company.
Perusahaan ini menuduh seorang pegawainya menjual daftar nasabah ke sebuah
pengiklan direct mail seharga $3 juta. Sabotase dapat dilakukan dengan berbagai
cara oleh Hacker atau Cracker .
Hacker : para ahli komputer yang memiliki kekhususan
dalam menjebol keamanan sistem komputer dengan tujuan publisitas Cracker :
penjebol sistem komputer yang
bertujuan untuk melakukan pencurian atau
merusak sistem. Hambatan aktif sendiri dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab dalam melakukan sebuah pekerjaan, dan menyalahgunakan
prosedur yang ada, dengan mengiming-imingi suatu hal untuk sebuah kepuasan konsumen.
Tiga kategori individu yang bisa menimbulkan serangan
ke sistem informasi:
1.Karyawan sistim informasi
2.Para pemakai
3.Pengganggu
Hambatan aktif contohnya penipuan dalam
sebuah komponen-komponen dari komputer dan sabotase.
sumber:
rnurinaramadhani.blogspot.in/2013/01/32-jelaskan-hambatan-aktif-dan-contohnya.html?m=1
nickoprasetioo.blogspot.in/2012/11/2-pengertian-hambatan-aktif-beserta.html?m=1
http://brisingrraudhr.blogspot.com/2012/11/
hambatan-aktif-dan-contohnya.html
Langganan:
Postingan (Atom)